
Waspada Lonjakan Kasus Flu dan ISPA di Jakarta, Gejalanya Mirip COVID-19
ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) ditandai dengan gejala berupa batuk, pilek, demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, hingga sesak napas.

Daftar Isi:
- Lonjakan Kasus Flu dan ISPA Capai 2 Juta Kasus
- Jenis-Jenis ISPA
- Cara Mengatasi ISPA
- Komplikasi ISPA
- Cara Mencegah ISPA
- Kapan Harus ke Dokter?
- Kesimpulan
Dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat Jakarta dan sekitarnya kembali dihadapkan pada peningkatan kasus penyakit pernapasan.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran, karena banyak warga yang kesulitan membedakan apakah mereka hanya terserang flu biasa atau infeksi saluran pernapasan yang lebih serius.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) memang menjadi salah satu penyakit yang sangat mudah menular. Terutama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan tingkat polusi udara yang tinggi seperti di Jakarta.
Oleh karena itu, memahami penyebab, gejala, hingga langkah pencegahan ISPA sangat penting agar kamu bisa lebih waspada, serta cepat mengambil tindakan medis bila diperlukan.
Lonjakan Kasus Flu dan ISPA Capai 2 Juta Kasus
Dalam beberapa minggu terakhir, rumah sakit dan klinik di wilayah Jabodetabek mencatat peningkatan signifikan pasien dengan gejala flu dan batuk pilek yang menyerupai COVID-19.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dirilis pada Rabu (5/11/2025), jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 1.966.308 kasus sejak Juli hingga Oktober 2025.
Fenomena musim kemarau basah yang disertai dengan tingginya polusi udara, menjadi kombinasi yang memperburuk penyebaran penyakit pernapasan di Jakarta.
Kadar polutan yang tinggi serta perubahan suhu ekstrem selama masa pancaroba membuat daya tahan tubuh banyak orang menurun. Akibatnya, muncul berbagai keluhan seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, demam, dan rasa lelah.
Pada kondisi yang lebih parah, sebagian penderita bahkan mengalami sesak napas dan membutuhkan penanganan medis segera.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa penularan ISPA dapat terjadi sangat cepat karena menyebar melalui percikan droplet dan partikel aerosol di udara.
Dengan jumlah kasus yang mendekati dua juta, ISPA kini menjadi salah satu beban kesehatan masyarakat terbesar di Jakarta, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Jenis-Jenis ISPA
ISPA bukan hanya satu penyakit, melainkan mencakup berbagai infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah.
Berikut beberapa jenis ISPA yang umum terjadi:
- Flu (Influenza)
Disebabkan oleh virus influenza yang menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, nyeri otot, dan kelelahan.
- Bronkitis
Terjadi ketika saluran udara di paru-paru (bronkus) meradang akibat infeksi. Gejalanya berupa batuk berdahak, sesak napas, dan dada terasa berat.
- Pneumonia
Infeksi serius yang menyebabkan peradangan pada kantung udara di paru-paru. Kondisi ini dapat menimbulkan demam tinggi, menggigil, dan sesak napas berat.
- Faringitis (Radang Tenggorokan)
Disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri pada tenggorokan. Gejalanya termasuk sakit tenggorokan, sulit menelan, dan suara serak.
- Sinusitis
Infeksi pada rongga sinus yang menyebabkan hidung tersumbat, nyeri wajah, dan sakit kepala.
Masing-masing jenis ISPA memiliki tingkat keparahan berbeda, tetapi semuanya bisa menular dengan mudah melalui udara.
Cari tahu lebih jauh tentang ICD 10 ISPA: Kode, Jenis, dan Penjelasan Lengkap.
Cara Mengatasi ISPA
Penanganan ISPA tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.
ISPA yang disebabkan oleh virus biasanya akan sembuh sendiri dengan perawatan suportif, seperti istirahat cukup, minum air putih yang banyak, serta mengonsumsi obat penurun demam dan pereda nyeri bila diperlukan.
Dokter mungkin akan memberikan antivirus untuk kasus influenza berat atau antibiotik jika penyebabnya adalah bakteri, seperti pada pneumonia.
Selain itu, penting untuk menjaga sistem imun tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, vitamin, dan suplemen untuk mempercepat pemulihan.
Jika gejala tak kunjung membaik setelah beberapa hari, segera periksa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk tes laboratorium atau rontgen dada bila diperlukan.
Ibu perlu tahu juga, Mengapa Anak-Anak Rentan Terkena ISPA?
Komplikasi ISPA
Jika tidak ditangani dengan baik, ISPA dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada kelompok rentan.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
- Pneumonia berat. Kondisi ini bisa berakibat fatal pada anak kecil dan lansia.
- Infeksi sekunder. Contohnya seperti sinusitis atau otitis media (infeksi telinga).
- Gangguan pernapasan kronis. Kondisi ini bisa terjadi terutama pada pengidap asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
- Perburukan kondisi medis lain. Contohnya seperti penyakit jantung atau diabetes, akibat peradangan sistemik.
Komplikasi ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan pengobatan segera saat gejala ISPA muncul.
Batuk jadi salah satu gejala ISPA. Jika mengalami batuk, ibu bisa simak rekomendasi obat dari Halodoc pada artikel berikut: Ini 5 Rekomendasi Obat Batuk Kering dan Gatal Paling Ampuh untuk Dewasa.
Cara Mencegah ISPA
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ada beberapa langkah sederhana namun efektif untuk menghindari penularan ISPA yang bisa kamu lakukan.
1. Jaga kebersihan tangan. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik untuk mencegah penyebaran virus.
2. Gunakan masker saat berada di luar ruangan atau di tempat ramai. Masker membantu mencegah penyebaran droplet dari orang yang sedang batuk atau bersin.
3. Menjaga daya tahan tubuh. Kamu bisa konsumsi makanan bergizi seimbang, cukup tidur, dan rutin berolahraga untuk memperkuat imunitas.
4. Hindari kontak dekat dengan orang sakit. Jika ada anggota keluarga yang sedang flu atau batuk, batasi kontak langsung dan jaga ventilasi ruangan tetap baik.
5. Lakukan vaksinasi. Vaksin influenza dan vaksin pneumonia bisa membantu mengurangi risiko terkena ISPA berat, terutama pada lansia dan penderita penyakit kronis.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera temui dokter bila kamu atau anggota keluarga mengalami gejala ISPA yang tak kunjung membaik dalam 3–5 hari, seperti:
- Demam tinggi lebih dari 38°C.
- Sesak napas.
- Batuk berdahak disertai darah.
Kondisi ini bisa menandakan infeksi yang lebih serius seperti pneumonia atau komplikasi lain.
Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan sejak gejala awal muncul untuk mencegah perburukan kondisi.
Kesimpulan
Lonjakan kasus flu dan ISPA di Jakarta menjadi peringatan bahwa kewaspadaan terhadap penyakit pernapasan harus tetap dijaga, bahkan setelah pandemi COVID-19 mereda.
Menjaga pola hidup sehat, menerapkan etika batuk, dan melakukan vaksinasi rutin adalah langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga dari penularan penyakit ini.
Konsultasikan keluhan melalui layanan chat dokter di Halodoc agar kamu bisa mendapatkan saran medis tanpa harus keluar rumah.
Konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam kini lebih mudah dan praktis melalui Halodoc.
Kamu bisa beli obat online atau produk kesehatan lainnya dengan praktis dan mudah di Apotek Online Halodoc.
Toko Kesehatan Halodoc Produknya 100% asli dan tepercaya. Tanpa perlu antre, obat bisa diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat dari lokasi kamu berada.
Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga dan dapatkan obat dari apotek 24 jam terdekat!


